Kabar Dari China Bakal Hadang Rupiah ke Bawah Rp 15.000/US$?


Jakarta, CNBC Indonesia - Tren penguatan rupiah masih terus berlanjut Senin kemarin, bahkan sempat menembus ke bawah Rp 15.000/US$. Rupiah kini sudah menguat dalam 4 hari beruntun, dan risiko koreksi pun semakin besar.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah kemarin mampu menguat 0,66% ke Rp 15.040/US$, setelah sempat menyentuh Rp 14.975/US$.

Pada perdagangan Selasa (17/1/2023), fokus pasar tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi China kuartal IV dan setahun penuh 2022 yang akan menunjukkan masa "tergelap" lebih dari 4 dekade terakhir.

Survei Reuters terhadap 40 ekonom menunjukkan pada 2022 perekonomian China diperkirakan hanya tumbuh 3,2%, Angka tersebut jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Jika tidak memperhitungkan tahun 2020, ketika dunia dilanda pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19), maka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tersebut menjadi yang terendah sejak 1976.

Rilis PDB yang lebih rendah dari ekspektasi bisa membuat sentimen pelaku pasar memburuk dan rupiah akan tertekan. Sebaliknya, jika lebih tinggi dari 3,2%, maka rupiah punya peluang kembali ke bawah Rp 15.000/US$, sebab akan muncul harapan perekonomian 2023 tidak seburuk prediksi banyak pihak.

Secara teknikal, sukses menembus ke bawah Rp 15.090/US$, yang merupakan support kuat.

Level tersebut merupakan Fibonacci Retracement 50%, yang ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Penguatan rupiah sebelumnya terakselerasi setelah menembus Rp 15.450/US$, yang merupakan Fib. Retracement 38,2%.

Rupiah yang disimbolkan USD/IDR sukses kembali ke bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), MA 100 dan 200 yang tentunya memberikan peluang penguatan lebih lanjut.

Namun, beberapa indikator juga menunjukkan risiko koreksi rupiah.

Indikator Stochastic pada grafik harian mulai bergerak turun masuk wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic yang mencapai jenuh jual tentunya memperbesar risiko koreksi.

Selain itu, penguatan tajam pada perdagangan Kamis (12/1/2023) hingga Senin kemarin membuat rupiah membentuk gap, atau posisi pembukaan perdagangan yang jauh lebih rendah dari penutupan hari sebelumnya.

Secara teknikal, pasar biasanya akan menutup gap tersebut, yang artinya risiko koreksi bertambah.

Level psikologis Rp 15.000/US$ menjadi support kuat. Selama tertahan di atasnya, rupiah berisiko terkoreksi ke Rp 15.090/US$ - Rp 15.100/US$. Jika level tersebut ditembus dengan konsisten, rupiah berisiko melemah lebih jauh.

Sementara jika mampu menembus dan bertahan di bawah level psikologis, rupiah berpeluang menguat ke Rp 14.950/US$ - Rp 14.920/US$.

CNBCIndonesia.com