Mohon Bersabar! IHSG Batal ke 6.700, Mulai Profit Taking


Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,29% ke 6.645,26 pada perdagangan pagi ini, Jumat (15/10/2021).
Hingga 09.05 WIB, penguatan IHSG terpangkas. IHSG tercatat naik sebesar 0,21% ke level 6.640. Di saat yang sama tercatat ada 245 saham yang menguat, 75 melemah dan 145 stagnan.

Tapi pada pukul 09.10 IHSG turun 0,29% di 6.601 dengan nilai transaksi Rp 2,03 triliun dan asing melanjutkan net sell di pasar reguler sebesar Rp 92 miliar.

Saham yang paling banyak dikoleksi asing adalah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan net buy masing-masing sebesar Rp 9,8 miliar dan Rp 1,9 miliar di awal perdagangan.

Sementara itu saham yang banyak dilepas asing adalah saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan net sell masing-masing sebesar Rp 26,2 miliar dan Rp 13 miliar.

Semalam tiga indeks saham bursa New York ditutup naik lebih dari 1,5% akibat rilis kinerja keuangan emiten yang lebih baik dari perkiraan.

Indeks Dow Jones Industrial (DJI) bertambah 1,56%. Indeks S&P 500 melesat 1,71% dan Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 1,73%.

Dari domestik, Indonesia akan merilis neraca perdagangan September, yang diprediksi bakal berujung pada angka US$ 3,9 miliar, atau melemah dari neraca perdagangan bulan Agustus sebesar US$ 4,7 miliar--yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, rekor sebelumnya tercipta pada Desember 2006 yaitu US$ 4,64 miliar.

Selain itu, pada hari ini Bank Indonesia (BI) juga akan merilis statistik Utang Luar Negeri (ULN) per Agustus 2021.

Sebelumnya, pada 15 September 2021, BI melaporkan ULN Indonesia per akhir Juli 2021 adalah US$ 415,7 miliar. Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 14.257 seperti kurs tengah BI pada waktu itu, maka ULN Indonesia adalah Rp 5.926.63 triliun.

"ULN tumbuh 1,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 2% (yoy). Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN Pemerintah," sebut keterangan tertulis BI, Rabu (15/9/2021).

CNBCIndonesia.com